<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="https://repository.iaknpky.ac.id/repo/handle/123456789/464">
<title>PSIKOLOGI KRISTEN</title>
<link>https://repository.iaknpky.ac.id/repo/handle/123456789/464</link>
<description>Repositori milik Jurusan PSIKOLOGI KRISTEN</description>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.iaknpky.ac.id/repo/handle/123456789/660"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.iaknpky.ac.id/repo/handle/123456789/659"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.iaknpky.ac.id/repo/handle/123456789/657"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.iaknpky.ac.id/repo/handle/123456789/655"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-05-27T21:04:11Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="https://repository.iaknpky.ac.id/repo/handle/123456789/660">
<title>JATI DIRI PENDIDIKAN KEANTARBUDAYAAN 
(KAJIAN FILOSOFIS DAN PRAKSIS PLURALISME MELALUI PENDEKATAN ETNOPEDAGOGIK )</title>
<link>https://repository.iaknpky.ac.id/repo/handle/123456789/660</link>
<description>JATI DIRI PENDIDIKAN KEANTARBUDAYAAN 
(KAJIAN FILOSOFIS DAN PRAKSIS PLURALISME MELALUI PENDEKATAN ETNOPEDAGOGIK )
CHRIS APANDIE,M.Pd
CHRIS APANDIE,M.Pd
Jati diri pendidikan multikultural adalah konsep pembelajaran berbasis etnopedagogik dengan pendekatan sosial budaya. Dimensi ini menunjukkan kesadaran akan keanekaragaman ide dan implementasinya yang dapat ditemukan dalam masyarakat di bumi ini, bagaimana konsepsi ini dipikirkan dan dipraktikan di setiap negara serta cara menerapkan mozaik pemikiran orang yang beragam ditinjau dari sudut budaya. Perbedaan budaya inilah membuat kesadaran lintas budaya adalah alasan utama untuk memahami sesama dala perspektif global. Ketika seseorang menerima sifat manusia dari sekelompok orang, keunikan budaya atau praktiknya tidak terasa teralienasi dan pada akhirnya menciptakan rasa saling percaya dan toleransi.
</description>
<dc:date>2019-12-10T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.iaknpky.ac.id/repo/handle/123456789/659">
<title>MERAJUT KERUKUNAN DALAM KEBERAGAMAN: PRAKSIS PANCASILA</title>
<link>https://repository.iaknpky.ac.id/repo/handle/123456789/659</link>
<description>MERAJUT KERUKUNAN DALAM KEBERAGAMAN: PRAKSIS PANCASILA
CHRIS APANDIE,M.Pd
CHRIS APANDIE,M.Pd
Merajut kerukunan dalam keberagaman tidak akan mudah dengan berbagai tantangan yang selalu muncul dalam diri setiap warga negara Indonesia. Hal terkecil seperti tidak mampu menerima pendapat orang lain dalam suatu forum, atau cenderung mempertentangkan perbedaan, mencari-cari unsur yang tidak sama, hingga berujung pada konflik kekerasan. Penghayatan dalam setiap sila-sila Pancasila kerapkali dilupakan mengingat anggapan pada keberadaannya yang telah usang. Padahal sedianya nilai Pancasila tidak pernah terlepas dari jati diri bangsa Indonesia sejak berdirinya negara ini hingga sekarang. Moderasi beragama juga menjadi satu konsep baru yang sebenarnya telah lama tertuang dalam nilai-nilai Pancasila. Kerukunan dalam keberagaman dan moderasi beragama juga membawa warga negara pada sikap toleransi. Sebuah konsep dimana peaceful co-existence menjadi salah satu tujuan hidup berbangsa dan bernegara. Konsep salad bowl dapat menjadi salah satu pilihan format baru bagi Indonesia untuk merajut kesadaran tentang kerukunan dalam keberagaman. Dalam semangkuk salad kita dapat menikmati beragam buah dan sayuran. Disamping itu harmoni multikultural sebagai praksis Pancasila dan estimasi dari konsep salad bowl dapat dikembangkan melalui beberapa strategi dari berbagai aspek. Komitmen sebagai seorang warga negara Indonesia selaiknya sudah satu paket dengan konsensus terhadap konsep keberagaman. Interaksi multikultural dapat menjadi suatu ukuran ketercapaian kerukunan dalam keberagaman.
</description>
<dc:date>2019-09-25T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.iaknpky.ac.id/repo/handle/123456789/657">
<title>Huma Betang: Identitas Moral Kultural Suku Dayak Ngaju Kalimantan Tengah</title>
<link>https://repository.iaknpky.ac.id/repo/handle/123456789/657</link>
<description>Huma Betang: Identitas Moral Kultural Suku Dayak Ngaju Kalimantan Tengah
CHRIS APANDIE,M.Pd
CHRIS APANDIE,M.Pd
Dewasa ini benda cagar budaya seolah tidak lagi memiliki daya tarik filosofis dan tidak terpelihara, padahal benda cagar alam mengandung pemaknaan yang lebih dari sekedar fisik, bahkan merupakan identitas moral kultural. Eksplorasi nilai filosofis pada huma betang dapat menjadi langkah revitalisasi kebudayaan guna memperkuat identitas moral kultural warga negara Indonesia. Huma Betang dikenal secara luas dengan istilah “rumah besar”. Rumah ini ditinggali orang Dayak sejak jaman dulu dengan beragam agama dan kepercayaan di dalamnya, namun penghuninya tetap hidup berdampingan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Lokasi penelitian adalah di Betang Toyoi Tumbang Malahoi Kecamatan Rungan Kabupaten Gunung Mas Kalimantan Tengah. Bagi masyarakat Suku Dayak huma betang tidak hanya sekedar tempat tinggal, tapi merupakan jantung dari struktur kehidupan orang Dayak. Identitas kultural yang terefleksi yaitu huma bentang: 1) sebagai refleksi kehidupan masyarakat yang toleran; 2) sebagai asal mula tumbuhnya rasa persatuan dan kebersamaan antar suku Dayak setelah kesepakatan damai Tumbang Anoi; 3) sebagai replika sistem komunal yang dianut masyarakat Suku Dayak; 4) mengandung pola kosmologi yang mencerminkan keseimbangan sebuah nilai; 5) sebagai cerminan kehidupan demokratis dan egaliter; 6) melalui pola kehidupan melahirkan konsep kepemimpinan Suku Dayak; 7) merepresentasikan prinsip kolektif; 8) sebagai model ideal sistem masyarakat pluralis.
</description>
<dc:date>2019-12-20T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.iaknpky.ac.id/repo/handle/123456789/655">
<title>Fostering Religious Moderation’s Perception in the 4.0 Era: Citizenship Education Challenge</title>
<link>https://repository.iaknpky.ac.id/repo/handle/123456789/655</link>
<description>Fostering Religious Moderation’s Perception in the 4.0 Era: Citizenship Education Challenge
CHRIS APANDIE,M.Pd
CHRIS APANDIE,M.Pd
Citizenship education and religious moderation intersect in state life aspect. Citizenship education that concerned in establishment citizen character both informal and formal institution, has a role to control the development of 4.0 Industrial Revolution so it can keep along with national identity. Then, the emergence of religious moderation term, which was initiated by Indonesian Ministry of Religious Affairs, marked the need to improve implementation of religious values by internalizing the understanding or perception about the difference. As this world's public space today tends to be dominated by radicalism, political identity, and exclusivity. Formulation of the problem in this study is "How to fostering religious moderation perception in the 4.0 industrial revolution era through citizenship education?". The method in this research is Systematic Literature Review (SLR). The results of this literature research show that citizenship practice changes as fast as technological developments occur. Perspective of citizens in participating becomes more open especially on social media platforms. This openness can be utilized for disseminated of religious moderation by digital platform. Citizenship education needs to develop themselves by delivering learners to a comprehensive awareness of diversity and Indonesia with the authenticity of Bhinneka Tunggal Ika. In the end, the understanding of religious moderation in citizenship education needs to be implanted along with efforts to fostering tolerant attitude in a multicultural education and tolerance education. Way of thinking on every citizens need to equipped with an understanding of diversity and tolerance in order to grow a good perception about diversity.
</description>
<dc:date>2020-03-24T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
