Persepuluhan dan Penggunaannya Menurut Perjanjian Lama dan Relevansinya bagi Gereja Masa Kini
Tampilkan catatan item sederhana
| dc.contributor.author |
WILSON,D.Th |
|
| dc.date.accessioned |
2026-09-15T04:36:04Z |
|
| dc.date.available |
2026-09-15T04:36:04Z |
|
| dc.date.copyright |
Semua hak cipta dilindungi oleh INSTITUT AGAMA KRISTEN NEGERI PALANGKA RAYA |
|
| dc.date.issued |
2020-08-30 |
|
| dc.identifier.uri |
https://isbn.perpusnas.go.id/Account/SearchBuku?searchTxt=9786237069324&searchCat=ISBN |
|
| dc.identifier.uri |
https://repository.iaknpky.ac.id/repo/handle/123456789/4110 |
|
| dc.description.abstract |
Persembahan Persepuluhan pada hakikatnya adalah milik Allah. Premis ini tertulis
dalam Alkitab: “… segala persembahan persepuluhan dari tanah, baik dari hasil benih di
tanah maupun dari buah pohon-pohonan … lembu sapi atau kambing domba … harus
menjadi persembahan kudus bagi Tuhan” (Imamat 27:30-23). Karena itu orang yang tidak
memberikannya atau menggunakannya dengan benar adalah penipu, dan pencuri milik
Tuhan.
Persepuluhan dapat dimengerti dengan benar dengan memperhatikan ajaran Alkitab,
khususnya Perjanjian Lama. Hal itu juga harus merujuk pada konteksnya bahwa Perjanjian
Lama secara eksklusif bagi orang Yahudi. Dalam peraturan keagamaan Yahudi dikenal
pengklasifikasian persepuluhan ke dalam tiga jenis, yaitu: Pertama, persepuluhan yang
dihitung 10% dari semua penghasilan (Bilangan 18:26-28); kedua, persepuluhan pesta
(Ulangan 12); ketiga, persepuluhan tahun ketiga, yang oleh John F. Mac Arthur disebut
“program orang miskin atau program kesejahteraan (Ulangan 14:28-29) |
|
| dc.publisher |
Lembaga Literasi Dayak |
|
| dc.title |
Persepuluhan dan Penggunaannya Menurut Perjanjian Lama dan Relevansinya bagi Gereja Masa Kini |
|
File dalam item ini
Item ini muncul di Koleksi berikut
Tampilkan catatan item sederhana